GURU PENGGERAK
https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html
STRUKTUR SEKOLAH 2022
https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/07/struktur-sekolah-tahun-20212022.html.
NOMOR ADUAN MASYARKAT
https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/04/aduan-masyarakat-sapa-mh.html.
BERKISAH
https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2016/04/batu.html.
GURU PENGGERAK
https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html
Thursday, 7 July 2022
Wednesday, 27 April 2022
Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Dalam tulisan ini perkenankan saya membahas tentang Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam koneksi antar materi ini terdapat 10 pertanyaan yang akan saya bahas satu persatu.
1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Filosofi
Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar
dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa
sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik
kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan
karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun
karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau
mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai
pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan
filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Dalam
pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan
prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi
seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal.
Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.
Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.
3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.
Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Pendamping (pengajar Praktik) dan fasilitator memberikan saya wawasan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching, membuat saya menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mencapai tujuan yang saya kehendaki dan membantu saya menerapkan coaching pada teman sebaya dalam mengambil keputusannya sendiri berdasarkan langkah TIRTA
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Sebagai seorang pendidik, kita harus
mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga
dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan
sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan
keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan
baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus
memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak
sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Beban
dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting.
Tugas pendidik dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.
Apa
yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Tapi setidaknya
pengambilan keputusan yang dilakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran
murid dan tetap memegang teguh nilai-nilai kebajikan universal
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat
tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika
dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat
dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui
proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka
keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari
pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Jawaban saya iya, kesulitan
muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah
dilakukan selama bertahun-tahun, tidak semua warga sekolah
berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan bersama, dan keputusan
yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul
banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.
8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Pengambilan
keputusan yang kita ambil memberikan kebebasan pada murid untuk mengambil
keputusan dengan tetap dalam tuntunan kita sebagai pendidik. Keputusan yang diambil harus memenuhi nilai kebajkan universal dan dapat dipertanggungjawabkan.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Ketika guru sebagai pemimpin
pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak
pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi
oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang
menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh
menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam
mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Keputusan yang berpihak kepada murid
haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih
dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar
murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan
diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
- Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
- Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.
- Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
- Diperlukan kompetensi kesadaran diri (sel awarness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awarness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan
- Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
- Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat.
Saturday, 23 April 2022
Modul 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Bapak/Ibu
guru di seluruh nusantara, salam sejahtera untuk kita semua.
Sebagai seorang guru
kita sering kali dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan atau kasus yang
ada di kelas maupun di sekolah.Tetapi kita belum memahami kasus tersebut berupa
bujukan moral atau dilema etika.Dan terkadang kita mengambil keputusan
berdasarkan kehendak kita tanpa melakukan pengujian keputusan.
Setelah mengambil suatu
keputusan, pernahkah Anda menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri Anda sendiri
apakah keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam diri
Anda, atau timbul pemikiran mengganjal dalam diri Anda seperti, ‘Apakah ini
sesuai peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti
ini?’
Setelah mengikuti PGP angkatan 4 ini, saya mempelajari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan dalam pembelajaran. Banyak pengetahuan yang harus saya pelajari yang berkaitan dengan perbedaan bujukan moral dengan dilema etika. Dua istilah ini terkadang masih membuat saya bingung dan ragu apakah kasus yang saya hadapi masuk ke bujukan moral atau dilema etika. Karena secara sekilas sulit untuk dibedakan,butuh pengujian pengambilan keputusan dengan penerapan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang harus dilakukan.
A. Perbedaan Bujukan Moral dan Dilema Etika
Dalam pengambilan
keputusan ada dua hal yang terjadi yaitu bujukan moral dan dilema
etika. Apakah perbedaan keduanya?
Bujukan moral atau benar
vs salah adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada
situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan.
Dilema etika atau benar
vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada
situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.
B. Empat Paradigma dalam Pengambilan Keputusan
Dari pengalaman kita
bekerja pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika
adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita
menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang
bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan,
persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Secara umum ada pola,
model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa
dikategorikan seperti di bawah ini.
1. Individu lawan
masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa
kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan
kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan
jangka panjang (short term vs long term)
C.
Tiga Prinsip dalam Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan sebuah
keputusan ada tiga prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang
seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang
harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip
tersebut yaitu.
1. Berpikir Berbasis Hasil
Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis
Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa
Peduli (Care-Based Thinking)
D.
Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Sebagai seorang pemimpin
pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah
keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk
mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar
pengambilan keputusan secara etis.
Di bawah ini adalah 9
langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji
keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa
nilai-nilai yang bertentangan.
1. Mengenali bahwa ada
nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2. Menentukan siapa yang
terlibat dalam situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta
yang relevan dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau
salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan
uji panutan/idola.
5. Pengujian Paradigma
Benar lawan Benar.
6. Melakukan Prinsip
Resolusi.
7. Investigasi Opsi
Trilema.
8. Buat Keputusan.
9. Lihat lagi Keputusan dan
Refleksikan.
Adapun cara yang akan saya lakukan dalam mentransfer dan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan dalam Program Guru Penggerak angkatan 4 ini adalah dengan belajar dan berbagi.
Selain belajar untuk
peningkatan kompetensi diri sendiri, saya juga melakukan sesi sharing atau
berbagi apa yang sudah saya dapatkan baik kepada rekan-rekan guru di sekolah
dan juga rekan-rekan guru di seluruh nusantara. Karena bagi saya dengan berbagi
maka ilmu yang akan kita miliki akan semakin berkembang dan bertambah. Cara berbagi
yang dilakukan antara lain:
1. Mensosialisasikan
materi-materi Program Guru Penggerak yang telah didapatkan melalui komunitas
praktisi SDIT Mutiara Hati yang sudah dibentuk dan juga melalui
rapat dewan guru SDIT Mutiara Hati.
2. Mensosialasisasikan
kepada rekan guru lain dalam lingkup kegiatan Kerja Kelompok Guru (KKG) yang
ada di Dabin 1 Gugus Ki Hadjar Dewantara Kecamatan Ngargoyoso Kab. Karanganyar.
3. Mensosialisasikan
materi-materi Program Guru Penggerak melalui tulisan-tulisan di blog https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com
4. Mensosialisasikan
materi-materi Program Guru Penggerak melalui video yang diupload ke channel
youtube pribadi yaitu Husna Khayla TV (https://www.youtube.com/channel/UCHNVNlKOfXQtk_LfYsJzt_w)
5. Berbagi pengetahuan
tentang pengambilan keputusan melalui media sosial seperti Whatsapp dan
facebook.
Langkah-langkah awal yang akan saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut:
Setelah mempelajari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran, maka kedepannya ketika saya dihadapkan dalam
suatu situasi atau suatu permasalahan, maka langkah-langkah yang akan saya
lakukan untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah:
1. Langkah Pertama, saya terlebih dahulu akan
menganalisis dan menentukan apakah masalah yang saya hadapi termasuk ke dalam
dilema etika atau bujukan moral
2. Langkah Kedua adalah menentukan paradigma apa
yang ada pada permasalah tersebut. Secara umum ada pola, model, atau paradigma
yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan sebagai berikut
yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa
keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty), Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long
term).
3. Langkah Ketiga, saya akan menentukan prinsip yang
akan digunakan dalam pengambilan keputusan,. Prinsip-prinsip yang dimaksud
yaitu prinsip berfikir berbasis hasil (Ends-Based Thinking),
prinsip berfikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking) dan
prinsip berfikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking)
4. Langkah selanjutnya adalah saya akan menguji
keputusan yang saya ambil melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Menentukan nilai-nilai yang
bertentangan pada permasalahan yang sedang di hadapi
2. Menentukan siapa saja yang
terlibat dalam situasi tersebut
3. Menentukan fakta-fakta yang
relevan dalam situasi tersebut
4. Melakukan uji benar vs
salah dalam situasi tersebut.
- Melakukan Uji Legal yaitu menentukan
apakah ada aspek pelanggaran hukum
- Melakukan Uji Regulasi yaitu menentukan apakah ada
pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut.
- Melakukan Uji Intuisi yaitu menentukan apakah ada
yang salah dalam situasi tersebut berdasarkan perasaan dan intuisi
- Melakukan uji publikasi yaitu menguji persaan bila
keputusan yang diambil dipublikasikan di halaman depan Koran
- Melakukan uji panutan/ idola yaitu
menentukan keputusan apa yang akan diambil oleh
panutan/idola dalam situasi tersebut
5. Menentukan paradigma yang
terjadi pada kasus yang dihadapi
6. Menentukan prinsip yang akan
digunakan
7. Menentukan penyelesaian yang
kreatif untuk menyelesaikan masalah tersebut (Investigasi Opsi Trilemma)
8. Menentukan keputusan yang akan
diambil.
9. Melihat kembali keputusan yang
diambil dan merefleksikannya
Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.
Kapan saya akan memulai
menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan tidak dapat dipastikan apakah
hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau hari apa.
Langkah-langkah pengambilan keputusan ini akan saya terapkan ketika saya
dihadapkan pada situasi dilema etika yang memerlukan pengambilan keputusan
terbaik yang dapat menguntungkan semua pihak. Jika hari ini mengalami dilema
etika maka hari ini saya akan menerapkan langkah-langkah tersebut, jika besok
mengalami dilema etika maka besok akan diterapkan langkah-langkah tersebut, dan
seterusnya. Harapan saya tentunya ketika saya dihadapkan pada situasi dilema
etika saya dapat melakukan pengambilan keputusan dengan memperhatikan 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan.
Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.
Dalam mengambil sebuah
keputusan tidak hanya kita lakukan sendiri saja tentu perlu masukan-masukan
dari rekan yang bisa kita ajak berdiskusi dan berbagi sehingga kita mengetahui
apakah keputusan yang telah kita ambil ini sudah tepat dan efektif atau belum.
Menurut saya orang-orang yang bisa saya jadikan teman diskusi/pendamping dalam
menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah
rekan-rekan sejawat di sekolah, kepala sekolah, orang tua siswa, siswa, komite
sekolah, atau bisa juga pengawas sekolah.
Demikian pemaparan saya
terkait dengan kegiatan tugas modul 3.1.a.7 tentang Demonstrasi Kontekstual
modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang saya tuangkan
dalam blog ini.
















