Membina Kesholehan Melejitkan Prestasi MH: Sejarah Islam

MH


GURU PENGGERAK

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html

STRUKTUR SEKOLAH 2022

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/07/struktur-sekolah-tahun-20212022.html.

NOMOR ADUAN MASYARKAT

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/04/aduan-masyarakat-sapa-mh.html.

BERKISAH

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2016/04/batu.html.

GURU PENGGERAK

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html

Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

Thursday, 12 May 2016

Dari Penggembala Kambing Hingga Pemimpin Umat





Judul di atas adalah sebuah sari rangkuman dari berbagai sumber, sengaja penulis rilis ulang supaya ada penyegaran baru dan kesadaran bahwa ada ibroh di setiap jenjang kenabian terutama pada masa-masa menggembala kambing sebagai bekal di fase kehidupan selanjutnya.

Berawal dari bukti keberhasilan Rosululloh mengangkat kaum Arab masa itu yang nota bene kaum terbelakang, tanpa aturan jelas, berada di daratan pasir, hingga kaum ummi, tidak bisa baca dan tulis, sobat pasti tahu kan ketika sebuah masyarakat tidak bisa baca dan tulis, maka demikianlah kondisi masyarakat Arab waktu itu.
Maka wajar, jika dua imperium besar masa itu Romawi dan Persia tidak memperhitungkan Jazirah Arab menjadi bagian dari wilayah jajahan mereka, mengingat kondisi daerah Arab yang demikian rendah sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Baik, lalu apa hubungan antara penggembala kambing dan seorang pemimpin? Para Nabi adalah penggembala kambing sebagai mana sabda Rasulullah shollAllahu alaihi wa salam:
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali telah menggembalakan kambing." (HR. Bukhori dan Muslim)
Hikmah Allah menjadikan para Nabi sebagai penggembala kambing adalah bagian
Allah mempersiapkan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam menjadi pemimpin umat yang tidak berlepas tangan dan tidak bekerja, sehingga dapat menjadi contoh teladan umatnya. Demikian juga para nabi.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, menyatakan, Tidak ada seorang nabi yang Allah utus kecuali menggembalakan kambing. Seluruh nabi yang Allah utus pertama kali menggembalakan kambing, agar mereka mengetahui dan berlatih mengurus dan mengatur dengan baik. Allah mengatur kambing sebagai hewan gembala mereka, karena penggembala kambing akan mendapatkan ketenangan, kelembutan dan kasih sayang. Hal ini kerana ia menggembalakan hewan ternak yang lemah, berbeda dengan penggembala unta, karena penggembala unta lebih banyak memiliki kekerasan dan kekasaran. Ini memang kerana unta sendiri kasar, kuat dan keras. (Dinukil dari kitab As Siroh An Nabawiyah min Kalami Abdurrahman Nashir Al Sa’di dan Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, disusun oleh Muhammad Riyaadh Ali Ahmad, Maktabah Al Rusyd, Halaman 14).
Sebagian mereka dikisahkan Allah dalam Al Quran, seperti kisah Nabi Musa dalam firman Allah:
Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS. Thohaa: 18)
Jelas dalam ayat ini Nabi Musa menggembalakan kambing. Demikian juga Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menggembalakan kambing sejak kecil dalam pemeliharaan ibu susuannya di pedalaman Bani Sa'ad.
Nabi Muhammad shollAllahu alaihi wa sallam mulai menggembalakan kambing sejak masih berada di pedalaman Bani Sa’ad ketika diasuh Halimah Al Sa’diyah dan dalam usia yang dini sekali. Hal ini diakui beliau sendiri ketika menyatakan: Ibu susuanku dari Bani Sa’ad bin Bakar, lalu aku dan anak ibu susuanku tersebut berangkat menggembalakan ternak kami tanpa membawa bekal, lalu aku berkata, Wahai saudaraku, pulanglah mengambil bekal dari ibu kita. Lalu ia berangkat dan aku tinggal bersama ternak. Lalu terjadilah kisah pembelahan dada beliau. (Lihat Al Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir 2/299 dan Imam Adz Dzahabi menyatakan dalam Sirohnya hal 48: Ini shohih. Lihat kitab As Siroh An nabawiyah Fi Dhou’i Al Mashodir Al Ashliyah, karya DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, halaman 116-117)
Menggembalakan Kambing di Kota Mekkah
Beliau walaupun berada dalam kasih sayang yang besar dari pamannya, namun hal itu tidak membuat beliau manja dan malas, bahkan segera menggunakan kemampuannya untuk mencari kerja dan menyusahkan dirinya membantu pamannya dalam mencukupi keperluan hidupnya dan keluarga pamannya. Hal ini menunjukkan pribadi dan tabiat yang luhur dan baiknya beliau dalam bergaul dan membantu orang lain. Demikianlah kita lihat beliau bersusah payah membantu perekonomian Abu Tholib yang memang dikategorikan tidak kaya tersebut dengan memelihara dan menggembalakan kambing, sebagaimana beliau sampaikan sendiri dalam sabdanya:
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing. Lalu para sahabat beliau bertanya: Demikian juga engkau?" Beliau menjawab: "Ya, Aku dahulu menggembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qiraath." (HR. Bukhori dan Muslim)
Satu qiraath sama dengan seperduapuluh dinar.
Beberapa Pengajaran dari Peristiwa Ini
Para Ulama menjelaskan beberapa hikmah dan faedah nabi dibina dan dilatih dengan menggembalakan kambing. Di antaranya:
Pertama, melatih Nabi menjadi seorang yang tenang dan memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Demikian juga melatih beliau agar menjadi orang yang sabar, lemah lembut, penyayang, memperhatikan nasib yang lemah yang didapatkan dari bergaulnya beliau dengan binatang yang lemah seperti kambing.
Kedua, menggembala kambing dapat memberikan beberapa sifat baik, di antaranya:
1. Sabar, sebab penggembala dituntut menunggu dan menjaga serta mengawasi binatang gembalaannya sejak matahari terbit sampai tenggelam, sehingga dapat melatih kesabarannya. Hal ini dapat dilihat dari lambatnya kambing makan, sehingga penggembala memerlukan kesabaran tinggi menghadapinya. Demikian juga dalam melatih manusia.
2. Sifat tawadhu (rendah hati).
3. Kasih sayang dan kelembutan terhadap yang lemah, sebab penggembala harus dapat membantu dan merawat kambing tersebut bila sakit atau patah tulang atau yang lainnya.
4. Cinta usaha dan mandiri.
5. Kekuatan tubuh, akibat tempaan alam tempat beliau menggembalakan kambingnya.
6. Keberanian.
7. Kecakapan mengatur dan mengendalikan urusan.
Ketiga, Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, Para ulama menyatakan hikmah dari dibinanya para Nabi dengan menggembalakan kambing sebelum kenabian adalah agar mendapatkan dengan menggembala tersebut latihan menanggung amanat yang akan mereka pikul berupa melatih dan mengurusi umatnya dan juga karena bercampur dengannya akan memberikan kepada mereka sifat sabar dan penyayang karena mereka jika sabar menggembalakannya dan mengumpulkannya setelah bercerai berai di tempat penggembalaan dan menggiring mereka dari satu padang rumput ke padang rumput lainnya serta melindungi mereka dari serangan binatang buas dan yang lainnya. Mereka juga mengetahui keragaman tabiat mereka dan sangat mudahnya bercerai berai, padahal mereka lemah dan perlu penjagaan akan menjadikan mereka sabar mengurus umatnya.

Saturday, 27 February 2016

Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel



"Ada cara yang menyenangkan untuk mengubah kepribadian Anda agar menjadi selevel para ksatria Islam yang terpisah zaman dan waktu, bacalah sejarah"


Ini adalah kisah ketika dunia hanya mengenal dua wilayah, Barat dan Timur. Ini adalah persaingan antara dua negara; Imperium Romawi dan Khilafah Islam. Ini adalah cerita saat dunia terpolarisasi menjadi dua bagian; Kristen dan Islam. Ini adalah epik antara dua kekuasaan; Byzantium dan Utsmani.



Pada suatu masa ketika dunia hanya terbagi menjadi dua bagian, sudah menjadi kewajaran bagi Barat untuk menaklukkan Timur. Namun ada satu pemuda yang membalik semuanya dan menaklukkan sebagian besar Barat.



Pemuda yang mengukir namanya dalam sejarah emas dunia, dengan prestasi dan pencapaian yang tidak pernah ada pada masanya ataupun sebelumnya, prestasi yang jauh melebihi masanya.


Ini adalah salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah Islam dan sejarah dunia. Pertempuran yang sangat berpengaruh pada relasi Kristen dan Islam. Serta panglima terbaik yang telah diramalkan oleh Rasulullah. Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil
Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.
Menjadi Penguasa Utsmani
Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Menaklukkan Bizantium
Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.


Tanduk Emas atau Golden Horn
Tanduk Emas atau Golden Horn, di Istanbul, Turki.


Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.
“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)
Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya
Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.
Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari
Wafatnya Sang Penakluk
Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan. Dari berbagai sumber.