Membina Kesholehan Melejitkan Prestasi MH

MH


GURU PENGGERAK

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html

STRUKTUR SEKOLAH 2022

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/07/struktur-sekolah-tahun-20212022.html.

NOMOR ADUAN MASYARKAT

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2021/04/aduan-masyarakat-sapa-mh.html.

BERKISAH

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2016/04/batu.html.

GURU PENGGERAK

https://sditmutiarahatingargoyoso.blogspot.com/2022/02/laporan-hasil-aksi-nyata-modul-14.html

Friday, 20 May 2016

Ramadhan dan Kita


Setiap waktu dan setiap kali mata terbuka, segudang aktivitas sudah menanti hingga kembali sang mata tak mampu menahan kantuk, begitu terus terulang hingga aktivitas tersebut menjadi kebiasaan yang telah kita jalani hingga detik ini. Segudang aktivitas yang menguras energi tentu seiring  butuh asupan setiap waktu. Bejibun amanah yang kita pundak membutuhkan sebuah tempat untuk menyerap energi baru guna melanjutkan amanah itu.

Sementara sang waktu yang tanpa kita sadari senantiasa berputar menuju takdirnya. Kadang kita lupa bahwa hidup kita juga akan menemui takdirnya persis seperti sang waktu, maka di antara waktu-waktu yang tersisa, gunakanlah untuk kebaikan.

Bila hari ini kita masih bisa melihat matahari, itu tandanya masih ada kesempatan untuk berubah lebih baik, lebih taat kepada Allah. Bila hari ini kita masih merasakan hangatnya pagi, berarti kita masih diberi kesempatan untuk taubat, menimbun dosa dengan pahala. Jangan pernah putus asa, jika manusia tidak mau memaafkan, Allah mengampuni seluruh dosa, asal kita mau memintanya, asal kita serius. Bagi yang berubah, Allah sediakan dan mudahkan jalan-Nya, bagi yang bertaubat, Allah janjikan tidak hanya ampunan tapi kasih sayang dari-Nya. Tiada daya yang bisa kita lakukan selain memohon ampunan atas segala dosa yang diperbuat. Beristighfarlah.

Ramadhan sebagai bulan mulia penuh limpahan rahmat yang mampu menggerakkan kita untuk menyambut dan mengisinya dengan kegembiraan. Setiap kali ramadhan datang, maka kita seolah mendapat keajaiban yang membuat takjub heran karena polah tingkah yang bisa jadi tidak ditemui di bulan yang lain. Shalat witir, qiyamul lail tidak menjadi hal yang sulit, bahkan bisa rutin dan istiqomah di bulan Ramadhan. Di hari biasa banyak yang kuat begadang karena nonton bola tapi tidak untuk menghidupkan sunah. Shalat jama'ah yang di hari biasa bisa dihitung jumlahnya, kaum muslimin berjubel  memadati masjid hingga tak jarang yang kebagian shof di emperan masjid. Sungguh ajaib!

Bulan Ramadhan adalah moment yang tepat bagi kita untuk menginspirasi dan mendesain agenda-agenda di bulan yang lain. Ketika Ramadhan mampu memunculkan banyak kebaikan, maka setelahnya juga harus demikian. Jadilah pemenang di bulan Ramadhan. Pemenang adalah orang yang senantiasa istiqomah melakukan amalan-amalan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan di setiap hari selain bulan ini.

Marhaban ya Ramadhan. Bulan ini akan segera hadir di tengah-tengah kita, setelah sebelas bulan kita melewati warna-warni kehidupan. Menghitung hari, kalimat yang tepat untuk menyambut datangnya bulan penuh barokah. Inilah saat yang tepat untuk menciptakan momentum dan membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari.


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan. Bulan nan penuh berkah. Allah mewajibkan atas kamu berpuasa di bulan ini. Pada bulan ini pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithan-syaithan di belenggu. Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa tidak mendapatkan kebaikan di bulan ini, niscaya tidak ada kebaikan baginya.” (HR: Ahmad 8631).

Sudah sepantasnya kaum muslim mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya. Sebab, persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan, menjadi langkah awal yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam meraih berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah doa menyambut Ramadhan.

Do'a menyambut Ramadhan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ
(Alloohumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya'ban, wabaarik lanaa fii Romadhon)

Artinya : “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan”

Sunday, 15 May 2016

Anjing vs Belalang





  
Sehari hari belalang selalu melompat  dari atas dahan ke tanah atau sebaliknya hingga suatu ketika saat belalang melompat ke dahan pohon yang tinggi terlihatlah sebuah desa yang indah penuh taman bunga cocok untuk bermain, maka timbullah keinginan yang kuat untuk pergi ke  desa tersebut.

Maka teman setianya sang merpati putih diajak terbang oleh belalang untuk menuju ke desa tersebut, dengan semangat yang meluap-luap  sampailah mereka berdua ke desa tersebut, dan mulailah berjalan-jalan sembari melihat keindahan bunga di sekeliling mereka, hingga tibalah mereka pada sebuah  taman yang paling indah di antara taman desa tersebut namun taman tersebut berpagar tinggi dan di jaga oleh anjing besar.

Belalang bertanya kepada Anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?" 
"Aku adalah penjaga taman ini, aku di pilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terkuat dan terbaik di desa ini,’’ Jawab Anjing dengan nada sombong.

Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi "Heemm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita".

"Baik", jawab si anjing.

"Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut, siapa yang dapat melompati pagar itu dialah yang menang" ajak si anjing.

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut.

Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata, "Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah kalah."

"Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua?"

"Apapun tantangan itu, aku siap"jawab  si anjing.

Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".
Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.

"Hebat, kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing.

"Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang."

Kisah di atas hanyalah sebuah gambaran kehidupan di sekitar kita, setiap manusia mempunyai nafsu dan keinginan untuk selalu menang dan menjadi nomor satu di antara yang lainnya. Wajar, namun dalam kondisi tertentu keinginan  tersebut tidak seimbang dengan kemampuan setiap orang, maka tidak fair jika kemampuan kita selalu menang dibandingkan orang lain yang mempunyai  kemampuan yang lebih.
Perlombaan yang fair adalah perlombaan yang disesuaikan dengan kemampuan kita sendiri, artinya berlomba dengan diri kita, antara keinginan kita dan kekuatan kita bukan dari orang lain.


Thursday, 12 May 2016

Dari Penggembala Kambing Hingga Pemimpin Umat





Judul di atas adalah sebuah sari rangkuman dari berbagai sumber, sengaja penulis rilis ulang supaya ada penyegaran baru dan kesadaran bahwa ada ibroh di setiap jenjang kenabian terutama pada masa-masa menggembala kambing sebagai bekal di fase kehidupan selanjutnya.

Berawal dari bukti keberhasilan Rosululloh mengangkat kaum Arab masa itu yang nota bene kaum terbelakang, tanpa aturan jelas, berada di daratan pasir, hingga kaum ummi, tidak bisa baca dan tulis, sobat pasti tahu kan ketika sebuah masyarakat tidak bisa baca dan tulis, maka demikianlah kondisi masyarakat Arab waktu itu.
Maka wajar, jika dua imperium besar masa itu Romawi dan Persia tidak memperhitungkan Jazirah Arab menjadi bagian dari wilayah jajahan mereka, mengingat kondisi daerah Arab yang demikian rendah sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Baik, lalu apa hubungan antara penggembala kambing dan seorang pemimpin? Para Nabi adalah penggembala kambing sebagai mana sabda Rasulullah shollAllahu alaihi wa salam:
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali telah menggembalakan kambing." (HR. Bukhori dan Muslim)
Hikmah Allah menjadikan para Nabi sebagai penggembala kambing adalah bagian
Allah mempersiapkan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam menjadi pemimpin umat yang tidak berlepas tangan dan tidak bekerja, sehingga dapat menjadi contoh teladan umatnya. Demikian juga para nabi.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, menyatakan, Tidak ada seorang nabi yang Allah utus kecuali menggembalakan kambing. Seluruh nabi yang Allah utus pertama kali menggembalakan kambing, agar mereka mengetahui dan berlatih mengurus dan mengatur dengan baik. Allah mengatur kambing sebagai hewan gembala mereka, karena penggembala kambing akan mendapatkan ketenangan, kelembutan dan kasih sayang. Hal ini kerana ia menggembalakan hewan ternak yang lemah, berbeda dengan penggembala unta, karena penggembala unta lebih banyak memiliki kekerasan dan kekasaran. Ini memang kerana unta sendiri kasar, kuat dan keras. (Dinukil dari kitab As Siroh An Nabawiyah min Kalami Abdurrahman Nashir Al Sa’di dan Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, disusun oleh Muhammad Riyaadh Ali Ahmad, Maktabah Al Rusyd, Halaman 14).
Sebagian mereka dikisahkan Allah dalam Al Quran, seperti kisah Nabi Musa dalam firman Allah:
Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS. Thohaa: 18)
Jelas dalam ayat ini Nabi Musa menggembalakan kambing. Demikian juga Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menggembalakan kambing sejak kecil dalam pemeliharaan ibu susuannya di pedalaman Bani Sa'ad.
Nabi Muhammad shollAllahu alaihi wa sallam mulai menggembalakan kambing sejak masih berada di pedalaman Bani Sa’ad ketika diasuh Halimah Al Sa’diyah dan dalam usia yang dini sekali. Hal ini diakui beliau sendiri ketika menyatakan: Ibu susuanku dari Bani Sa’ad bin Bakar, lalu aku dan anak ibu susuanku tersebut berangkat menggembalakan ternak kami tanpa membawa bekal, lalu aku berkata, Wahai saudaraku, pulanglah mengambil bekal dari ibu kita. Lalu ia berangkat dan aku tinggal bersama ternak. Lalu terjadilah kisah pembelahan dada beliau. (Lihat Al Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir 2/299 dan Imam Adz Dzahabi menyatakan dalam Sirohnya hal 48: Ini shohih. Lihat kitab As Siroh An nabawiyah Fi Dhou’i Al Mashodir Al Ashliyah, karya DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, halaman 116-117)
Menggembalakan Kambing di Kota Mekkah
Beliau walaupun berada dalam kasih sayang yang besar dari pamannya, namun hal itu tidak membuat beliau manja dan malas, bahkan segera menggunakan kemampuannya untuk mencari kerja dan menyusahkan dirinya membantu pamannya dalam mencukupi keperluan hidupnya dan keluarga pamannya. Hal ini menunjukkan pribadi dan tabiat yang luhur dan baiknya beliau dalam bergaul dan membantu orang lain. Demikianlah kita lihat beliau bersusah payah membantu perekonomian Abu Tholib yang memang dikategorikan tidak kaya tersebut dengan memelihara dan menggembalakan kambing, sebagaimana beliau sampaikan sendiri dalam sabdanya:
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing. Lalu para sahabat beliau bertanya: Demikian juga engkau?" Beliau menjawab: "Ya, Aku dahulu menggembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qiraath." (HR. Bukhori dan Muslim)
Satu qiraath sama dengan seperduapuluh dinar.
Beberapa Pengajaran dari Peristiwa Ini
Para Ulama menjelaskan beberapa hikmah dan faedah nabi dibina dan dilatih dengan menggembalakan kambing. Di antaranya:
Pertama, melatih Nabi menjadi seorang yang tenang dan memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Demikian juga melatih beliau agar menjadi orang yang sabar, lemah lembut, penyayang, memperhatikan nasib yang lemah yang didapatkan dari bergaulnya beliau dengan binatang yang lemah seperti kambing.
Kedua, menggembala kambing dapat memberikan beberapa sifat baik, di antaranya:
1. Sabar, sebab penggembala dituntut menunggu dan menjaga serta mengawasi binatang gembalaannya sejak matahari terbit sampai tenggelam, sehingga dapat melatih kesabarannya. Hal ini dapat dilihat dari lambatnya kambing makan, sehingga penggembala memerlukan kesabaran tinggi menghadapinya. Demikian juga dalam melatih manusia.
2. Sifat tawadhu (rendah hati).
3. Kasih sayang dan kelembutan terhadap yang lemah, sebab penggembala harus dapat membantu dan merawat kambing tersebut bila sakit atau patah tulang atau yang lainnya.
4. Cinta usaha dan mandiri.
5. Kekuatan tubuh, akibat tempaan alam tempat beliau menggembalakan kambingnya.
6. Keberanian.
7. Kecakapan mengatur dan mengendalikan urusan.
Ketiga, Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, Para ulama menyatakan hikmah dari dibinanya para Nabi dengan menggembalakan kambing sebelum kenabian adalah agar mendapatkan dengan menggembala tersebut latihan menanggung amanat yang akan mereka pikul berupa melatih dan mengurusi umatnya dan juga karena bercampur dengannya akan memberikan kepada mereka sifat sabar dan penyayang karena mereka jika sabar menggembalakannya dan mengumpulkannya setelah bercerai berai di tempat penggembalaan dan menggiring mereka dari satu padang rumput ke padang rumput lainnya serta melindungi mereka dari serangan binatang buas dan yang lainnya. Mereka juga mengetahui keragaman tabiat mereka dan sangat mudahnya bercerai berai, padahal mereka lemah dan perlu penjagaan akan menjadikan mereka sabar mengurus umatnya.

Wednesday, 11 May 2016

SDIT Mutiara Hati Ngargoyoso Juara 2 LCC




Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2016 menjadi kisah tersendiri bagi kami. Setelah beberapa waktu lalu SDIT Mutiara Hati berhasil menjadi juara 2 Kabupaten Karanganyar dalam seni pantomim, hari ini, Rabu (11/5) SDIT Mutiara Hati kembali menambah prestasi dengan memperoleh piala. Kali ini kami berhasil mendapat juara 2 Lomba Cerdas Cermat Kec. Ngargoyoso yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kecamatan Ngargoyoso UPT PUD NFI dan SD, di SD 01 Girimulyo Ngargoyoso. Sebanyak 27 sekolahan, SDN, SDIT, dan MI memadati halaman SD 01 Girimulyo. Raut penuh harap terlihat di wajah setiap peserta yang hadir, termasuk rombongan tim kami, Balqis Al Ummah, Restu Putri Habilla, dan Annisa Nur Hanifah. 
Lomba ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi yang pertama adalah penyelesaian soal tertulis yang  diikuti semua peserta untuk diambil tiga besar. Sesi kedua, terpilih tiga regu terbaik yang kemudian diadu. Sesi yang menegangkan. Akhirnya, kami mendapatkan juara kedua. SDIT Mutiara Hati, membina kesholehan melejitkan prestasi. (NI)